Code Banner "Say No! To Terrorism!"

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ - Dan pergauli manusia dengan akhlak yang baik

Oleh:
Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyah
(Redaksi Sakinah - Majalah Asy-Syariah)

بسم الله الرحمن الرحيم

Mungkin engkau pernah mendengar atau membaca hadits Abu Dzar Al-Ghifari radhiyAllahu ‘anhu yang menyebutkan sabda sang Rasul ShallAllahu ‘alaihi wa sallam:



اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Susullah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan tersebut, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad 5/135, 158, 177, At-Tirmidzi no. 1987, dan selain keduanya. Dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 97 dan di kitab lainnya)

Hadits ini, kata Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrahman ibnu Nashir As Sa’di rahimahullahu, merupakan hadits yang agung. Di dalamnya, Rasul yang mulia ShallAllahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak hamba-hamba-Nya.
Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-Nya adalah agar mereka bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar takwa. Mereka berhati-hati dan menjaga diri agar tidak mendapatkan kemurkaan dan azab-Nya, dengan menjauhi perkara-perkara yang dilarang dan menunaikan kewajiban-kewajiban. Wasiat takwa ini merupakan wasiat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang terdahulu maupun belakangan. Sebagaimana takwa merupakan wasiat setiap rasul kepada kaumnya, di mana sang rasul menyerukan:

أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوهُ

“Beribadahlah kalian kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya.” (Nuh: 3)

Tentang perangai orang yang bertakwa ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan antara lain dalam firman-Nya berikut ini:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil, dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila mereka berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang orang yang benar imannya dan mereka itulah orang orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanyà, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 133-134)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat orang-orang yang bertakwa sebagai orang yang beriman dengan pokok-pokok keimanan (rukun iman), keyakinan-keyakinan, dan amal-amalnya, baik secara zhahir maupun batin, dengan menunaikan ibadah-ibadah badaniyah (yang dilakukan tubuh) dan maliyah (ibadah dengan harta). Orang yang beriman adalah orang yang sabar dalam kesulitan dan kesempitan, memaafkan manusia, menanggung gangguan dari mereka dengan tabah dan justru berbuat baik kepada mereka. Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang bersegera meminta ampun dan taubat manakala mereka terjatuh dalam perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri.

Dalam hadits Abu Dzar radhiyAllahu ‘anhu di atas, Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar seorang hamba terus-menerus bertakwa di mana saja dia berada, di setiap waktu dan setiap tempat, serta dalam segala keadaannya. Kenapa demikian? Karena si hamba sangat butuh kepada takwa, tak pernah bisa lepas darinya. Bila sampai lepas, ia akan binasa.

Namun yang namanya manusia mesti ada kekurangannya dalam menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajiban takwa. Maka Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk melakukan perkara yang dapat membersihkan cacat tersebut dan menghilangkannya. Yaitu, bila sampai si hamba jatuh dalam kejelekan maka ia bersegera menyusulnya dengan hasanah (kebaikan).

Hasanah sendiri adalah nama dari segala perbuatan yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hasanah yang paling agung yang dapat menolak kejelekan adalah taubat nashuha, istighfar, dan inabah (kembali) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengingat dan mencintai-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, serta berambisi untuk meraih keutamaan-Nya pada setiap waktu.

Termasuk hasanah yang dapat menolak kejelekan adalah memaafkan manusia, berbuat baik kepada makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala, menolong orang yang sedang ditimpa musibah, memberikan kemudahan bagi orang yang kesulitan, menghilangkan kemadharatan dan kesempitan dari hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (Hud: 114)

Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat yang lima, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus kesalahan yang dilakukan di antaranya, selama dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)

Banyak lagi dalil lain yang menunjukkan diperolehnya ampunan berkat amalan ketaatan.
Musibah yang menimpa seorang hamba juga merupakan penghapus kesalahan. Karena tidaklah seorang mukmin ditimpa kesedihan, gundah gulana, sakit bahkan sekadar tertusuk duri melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana dikabarkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyAllahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5641) dan Muslim (no. 2753).

Musibah itu bisa berupa hilangnya sesuatu yang dicintai, atau terkena sesuatu yang dibenci pada tubuh, hati ataupun harta, baik yang sifatnya di dalam ataupun di luar. Musibah ini bukan sengaja dilakukan hamba terhadap dirinya. Karena itulah Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang yang tertimpa musibah untuk melakukan amalan yang merupakan perbuatannya, dilakukan dengan kesadarannya, yaitu menyusul kejelekan yang terlanjur dilakukan atau kejelekan yang menimpa dirinya dengan kebaikan.

Pada akhirnya Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Akhlak baik terhadap manusia yang pertama adalah menahan diri dari mengganggu mereka dari segala sisi. Memaafkan keburukan mereka dan gangguan mereka terhadapmu, kemudian engkau bermuamalah dengan mereka dengan muamalah yang baik dalam ucapan maupun perbuatan. Termasuk akhlak baik yang paling khusus adalah sabar menghadapi mereka, tidak jenuh dengan mereka, berwajah cerah, berkata lembut, berucap indah yang menyenangkan teman duduk, memberikan kegembiraan pada teman, menghilangkan rasa tidak enak di hati mereka, dan terkadang memberikan gurauan jika memang ada maslahat. Akan tetapi tidak sepantasnya banyak bergurau atau guyonan. Karena bercanda dalam ucapan seperti garam pada makanan. Kalau tidak ada garam, makanan terasa hambar, namun bila terlalu banyak makanan menjadi asin. Dengan demikian, bila bercanda ini tidak ada atau sebaliknya melebihi batasan, maka menjadi tercela.

Termasuk akhlak yang baik adalah bergaul kepada manusia dengan apa yang pantas bagi mereka dan sesuai dengan keadaannya, dengan memandang apakah orang yang diajak bergaul itu masih kecil atau sudah besar, berakal atau terbelakang, seorang alim ataukah orang yang jahil/bodoh.

Sungguh, siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merealisasikan takwanya dan bergaul baik kepada manusia dengan perbedaan tingkatan mereka berarti ia telah mencapai kebaikan secara keseluruhan, karena ia telah menegakkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak para hamba. Juga karena ia termasuk orang yang berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuat ihsan terhadap hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. WAllahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dinukil Ummu Ishaq Al-Atsariyyah dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, karya Al-’Allamah Abdurrahman ibnu Sa'di rahimahullahu, hal. 48-50)
Sumber : http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=874 dengan judul Bergaul dengan Akhlak yang Baik

Selanjutnya »»

Hukum Memperingati Tahun Baru Islam

Penulis: Redaksi Assalafy.org
بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Telah menjadi kebiasaan di tengah-tengah kaum muslimin memperingati Tahun Baru Islam. Sehingga tanggal 1 Muharram termasuk salah satu Hari Besar Islam yang diperingati secara rutin oleh kaum muslimin.
Bagaimana hukum memperingati Tahun Baru Islam dan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam? Apakah perbuatan tersebut dibenarkan dalam syari’at Islam?
Berikut penjelasan Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Faqîh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala ketika beliau ditanya tentang permasalahan tersebut. Beliau adalah seorang ahli fiqih paling terkemuka pada masa ini.

Pertanyaan : Telah banyak tersebar di berbagai negara Islam perayaan hari pertama bulan Muharram pada setiap tahun, karena itu merupakan hari pertama tahun hijriyyah. Sebagian mereka menjadikannya sebagai hari libur dari bekerja, sehingga mereka tidak masuk kerja pada hari itu. Mereka juga saling tukar menukar hadiah dalam bentuk barang. Ketika mereka ditanya tentang masalah tersebut, mereka menjawab bahwa masalah perayaan hari-hari besar kembalinya kepada adat kebiasaan manusia. Tidak mengapa membuat hari-hari besar untuk mereka dalam rangka bergembira dan saling tukar hadiah. Terutama pada zaman ini, manusia sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan mereka dan terpisah-pisah. Maka ini termasuk bid’ah hasanah. Demikian alasan mereka.

Bagaimana pendapat engkau, semoga Allah memberikan taufiq kepada engkau. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan ini termasuk dalam timbangan amal kebaikan engkau.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullahu Ta’ala menjawab :

تخصيص الأيام، أو الشهور، أو السنوات بعيد مرجعه إلى الشرع وليس إلى العادة، ولهذا لما قدم النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال: «ما هذان اليومان»؟ قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: «إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما: يوم الأضحى، ويوم الفطر». ولو أن الأعياد في الإسلام كانت تابعة للعادات لأحدث الناس لكل حدث عيداً ولم يكن للأعياد الشرعية كبير فائدة.

ثم إنه يخشى أن هؤلاء اتخذوا رأس السنة أو أولها عيداً متابعة للنصارى ومضاهاة لهم حيث يتخذون عيداً عند رأس السنة الميلادية فيكون في اتخاذ شهر المحرم عيداً محذور آخر.

كتبه محمد بن صالح العثيمين

24/1/1418 هـ

Jawab : Pengkhususan hari-hari tertentu, atau bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu sebagai hari besar/hari raya (‘Id) maka kembalinya adalah kepada ketentuan syari’at, bukan kepada adat. Oleh karena itu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira ria padanya, maka beliau bertanya : “Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab : “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliyyah. Maka Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“

Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya/hari besar, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya.

Kemudian apabila mereka menjadikan penghujung tahun atau awal tahun (hijriyyah) sebagai hari raya maka dikhawatirkan mereka mengikuti kebiasaan Nashara dan menyerupai mereka. Karena mereka menjadikan penghujung tahun miladi/masehi sebagai hari raya. Maka menjadikan bulan Muharram sebagai hari besar/hari raya terdapat bahaya lain.

Ditulis oleh :

Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn

24 - 1 - 1418 H

[dinukil dari Majmû Fatâwâ wa Rasâ`il Ibni ‘Utsaimîn pertanyaan no. 8131]

Para pembaca sekalian,

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa memperingati Tahun Baru Islam dan menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam tidak boleh, karena :

- Perbuatan tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam. Karena syari’at Islam menetapkan bahwa Hari Besar Islam hanya ada dua, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.

- Perbuatan tersebut mengikuti dan menyerupai adat kebiasaan orang-orang kafir Nashara, di mana mereka biasa memperingati Tahun Baru Masehi dan menjadikannya sebagai Hari Besar agama mereka.

Oleh karena itu, wajib atas kaum muslimin agar meninggalkan kebiasaan memperingati Tahun Baru Islam. Sangat disesalkan, ada sebagian kaum muslimin berupaya menghindar dari peringatan Tahun Baru Masehi, namun mereka terjerumus pada kemungkaran lain yaitu memperingati Tahun Baru Islam. Lebih disesalkan lagi, ada yang terjatuh kepada dua kemungkaran sekaligus, yaitu peringatan Tahun Baru Masehi sekaligus peringatan Tahun Baru Islam.

Wallâhu a’lam bish shawâb

وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه وسلم

(Sumber http://www.assalafy.org/mahad/?p=290)
Selanjutnya »»

Kajian MP3 : عقوق الولدين (Durhaka Kepada Orangtua)

Ulasan kajian:
Judul : عقوق الولدين
( Durhaka Kepada Orangtua ) 1 & 2
Pemateri : Ustadz Muhammad Irfan
Format File : Mp3

Ukuran file :
Durhaka pada orang tua-1 : 3,698 Kb
Durhaka pada orang tua-2 : 2,981 Kb
Durasi :
Durhaka pada orang tua-1 : 00:31:33 menit
Durhaka pada orang tua-2 : 00:25:25 menit
Link Download kajian :
Durhaka pada orang tua-1 klik
disini
Durhaka pada orang tua-2 klik disini
Isi Kajian (secara ringkas) :
Dalam Kajian ini Al-UIstadz Muhammad Irfan membahas tentang pengertian dan dalil-dalil keutamaan berbuat baik kepada orangtua dan larangan berbuat durhaka kepada keduanya.
* Diantara pengertian عقوق الولدين (Durhaka Kepada Orangtua) adalah mengingkari perbuatan baik dari orang tua dan berbuat jelek kepada orangtua. Artinya dia tidak mengakui semua perbuatan baik orangtuanya kepada dia dan dia berbuat jelek kepada kedua orangtuanya.
* Diantara perintah untuk berbuat baik kepada orangtua dan larangan durhaka kepada keduanya:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا-الإسراء 23
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا-الإسراء 24
Artinya :
"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". (Al-Israa':23)
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al-Israa':24)
*Pada ayat tersebut terdapat ;

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
- Larangan beribadah kepada selain Allah dan larangan durhaka kepada kedua orangtua. Dan digandengkannya larangan durhaka kepada kedua orangtua setelah larangan syirik menunjukkan bahwa durhaka merupakan dosa besar yang paling besar setelah syirik.
- Anjuran berbuat baik kepada orangtua yaitu dengan memberikan kebaikan, berlemah lembut dan berlunak hati kepada keduanya baik dalam ucapan ataupun perbuatan.

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
- Ketika kedua orangtua kita atau salahsatu dari mereka telah lanjut usia (yang terkadang mereka berbuat seperti anak kecil lagi), hendaknya kita bersabar terhadap keduanya dan tetap berbuat baik kepada keduanya. Jangan sampai terlontar ucapan yang kasar bahkan ucapan kasar yang paling ringan sekalipun seperti uf atau ah..
- Hendaklah kita membantu atau mengurusi mereka sebagaimana kita ketika kecil diurusi dan dipelihara mereka.
--> Namun yang hendaknya menjadi catatan adalah satu amalan kebaikan yang sama yang diberikan seorang anak kepada orangtuanya tidak akan menyamai kebaikan dari amalan kebaikan yang sama pula yang dilakukan orangtua terhadap anaknya. Bahkan terkadang sangat beda kedudukan amalan tersebut.
Misalnya seorang ibu ketika mengurusi anaknya yang masih bayi, ketika si bayi buang air besar, kemudian dengan kasih sayang si ibu membersihkan kotorannya, sambil terbertik di pikirannya dengan berharap agar buah hatinya itu hidup dan semakin besar dalam keadaan bahagia.
Namun saat si ibu sudah lanjut usia yang terkadang berkelakuan seperti anak kecil lagi, misalnya tidak bisa buang air besar sendiri dan lain sebagainya, sehingga si anak yang harus mengurusinya, ketika si anak membersihkan kotorannya terkadang terbertik di pikirannya pertanyaan, kapan orangtuanya akan meninggal..
وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
- Anjuran agar kita berucap dengan ucapan yang baik dan lembut, jangan berucap kasar atau bahkan membentak mereka.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
- Menjaga sikap terhadap keduanya dengan merendah diri dan penuh kasih sayang.

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
- Selalu mendoakan kedua orang tua kita dengan do'a " رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ".

* Masih banyak lagi dalil-dalil bisa antum simak dalam kajian ini baik dari Al-Qur'an dan Hadits shahih yang menjelaskan tentang keutamaan berbuat baik dan larangan durhaka kepada kedua orangtua.
* Dalam kajian ini juga di sampaikan beberapa hadits Dhaif dan tidak ada asalnya yang berkenaan dalam pembahasan ini, salahsatu diantaranya adalah :

الجنة تحت من أقدم الأمهات
" Surga berada di bawah telapak kaki ibu". ( لا أصل له - Tidak ada asalnya)
Dan masih banyak lagi faedah yang bisa antum ambil dari kajian ini, Wallahu a'lam semoga bermanfaat.
Abu Harits Faishal
Selanjutnya »»

Perpindahan pengetikan dari Keyboard Inggris ke Arabic

Menyambung pada postingan sebelumnya tentang meng-arabkan windows, hasil dari beberapa pertanyaan yang masuk kepada kami. Diantaranya ada yang bertanya ; "Pake software apa supaya bisa nulis arab di mozilla? seperti pertanyaan ini, atau ada juga pertanyaan ; "Bagaimana cara mengatur perpindahan ketikan dari bahasa inggris ke arab pada waktu ngetik di notepad atau lainnya?
Maka pada kesempatan ini kami ingin melanjutkan penjelasan beberapa masalah tambahan yang berkaitan dengan penulisan arabic dan perpindahan keyboard dari bahasa Inggris (default-nya) ke bahasa arab secara otomatis dan mudah.Caranya sebagai berikut:
Langkah pertama windows anda harus bisa di setting dengan bahasa Arab, jika belum ikuti langkahnya disini.
Setelah windows anda bisa berbahasa arab yang ditandai dengan telah munculnya keyboard arabic di "text service and input languages" pada menu "language and regional options" di "control panel" windows anda, maka anda tinggal mengetahui letak abjad arab di keyboard anda serta menghapalkannya dan mengatur perpindahan bahasa dari english ke arab ketika anda mengetik.
Untuk mengetahui letak abjad arabic di keyboard anda caranya sebagai berikut:
1. Klik "Start- All Programs- Accesories- Accessibility- On Screen Keyboard", maka akan muncul tampilan visual keyboard default english seperti di bawah ini;2. Setelah muncul tampilan visual keyboard tersebut yang masih berbahasa inggris, maka untuk merubah tampilannya menjadi abjad berbahasa arab tekan "Alt+Shift", akan muncul tampilan berbahasa arab seperti ini;
3. Untuk mengetahui dan menampilkan letak harokatnya tekan tombol "Shift" pada keyboard, akan muncul visual sepeti ini:
Adapun untuk melakukan perpindahan otomatis ketika anda mengetik, atau saat anda menulis di word office atau di notepad atau lainnya, silahkan tekan "Alt+Shift", maka otomatis akan terjadi perubahan abjad pada keyboard dari inggris menjadi arab atau sebaliknya. Hal ini bisa kita ketahui dengan munculnya pergantian kode bahasa di "taskbar" kanan bawah dari "EN" (English) menjadi "AR" (Arabic), lihat gambar di bawah ini:Untuk memberikan harokat pada tulisan arab, anda tinggal menekan "Shift+...", misalanya harokat "Fathah" tekan "Shift+q", harakat "Tanwin" tekan "Shift+w", harokat "Kasroh" tekan "Shift+a", harokat"Sukun" tekan "Shift+x", harokat "Tasdid" tekan "Shift+~, dan lain-lain sesuai dengan letak harokat pada keyboard gambar 3 diatas.
Demikian tambahan penjelasan tentang tips menulis dan mengetik arab di windows, semoga beranfaat. Wallahu a'lam...
Abu Harits Faishal.
Selanjutnya »»

(Pers Rilis) Benarkah Syaikh Muqbil Mengajarkan & Pro Terorisme ?

Benarkah Syaikh Muqbil Pro Terorisme? Dan juga mengajarkan paham sesat tersebut kepada murid-muridnya?

Penulis Ustadz Abu Amr Ahmad


Menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya kita mendapat verifikasi langsung dari para alumnus yang pernah belajar di Pesantren Syaikh Muqbil. Untuk itu di sini kami ketengahkan jawaban dari Ustadz Luqman.

Alumnus Pesantren Darul Hadits Dammaj yang belajar di sana sejak 1994 itu mengatakan, “Justru Syaikh Muqbil itu sangat dibenci oleh para teroris – khawarij. Karena memang beliau termasuk di antara ‘ulama yang gencar membantah paham terorisme – khawarij serta membongkar berbagai kerancuan dan dalih-dalih mereka,hal ini dapat diketahui dari berbagai pelajaran yang beliau sampaikan, serta berbagai ceramah dan karya tulis beliau. Hal ini mengakibatkan kebencian kaum teroris – khawarij kepada Syaikh Muqbil, sehingga telah dilakukan berkali-kali upaya pembunuhan terhadap beliau. Di antara yang saya ingat adalah kejadian pada akhir 90-an, upaya peledakan di kota ‘Adn, yang sengaja dilakukan oleh kaum teroris – khawarij di Yaman untuk membunuh beliau ketika berceramah di masjid jami’ kota tersebut. Namun dengan taqdir dan pertolongan Allah, beliau terselamatkan, sedangkan bom meledak dengan dahsyat sehingga membuat tubuh si teroris hancur berkeping-keping.”

"Dakwah yang ditegakkan oleh Syaikh Muqbil adalah Dakwah Salafiyyah, yaitu dakwah yang ditegakkan di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan meniti jejak para salafush shalih (para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in). Demikian juga di pesantren beliau yang diajarkan adalah ilmu tafsir, hadits, fiqh, dan berbagai cabang ilmu agama lainnya dengan berdasarkan metode manhaj salafiyyah. Sama sekali tidak diajarkan terorisme. Bahkan justru beliau banyak membantah berbagai paham sesat yang ada, baik terorisme – khawarij, Syi’ah Rafidhah, Shufiyyah, Liberalisme, dan lainnya".

Demikian juga para murid syaikh Muqbil yang kini menjadi para ‘ulama besar di Yaman. Antara lain : di kota Al-Hudaidah ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi, di Ma’bar ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, di Mafraqhubaisy ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i, di Shan’a ada Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shaumali, di Hadhramaut ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i, di ‘Aden ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i, demikian juga di Desa Dzamar ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Adz-Dzamiri, dan lainnya, semuanya adalah para murid besar Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Untuk melihat kiprah mereka silakan kunjungi Olamayemen.com.

Mereka semua mengajarkan manhaj salaf, ilmu yang benar, ketaatan kepada pemerintah muslim, mengajarkan kedamaian, kelembutan, kasih sayang. Di samping membantah berbagai aliran dan paham sesat, baik khawarij teroris, syi’ah rafidhah, liberalisme, shufi, dan sebagainya.

Demikian juga di Indonesia banyak para alumnus yang kini mereka sebagai para ustadz pengasuh pondok pesantren ahlus sunnah, antara lain : Ust. Muhammad Sarbini pengasuh PP. Minhajus Sunnah Muntilan - Magelang, Ust. Askari pengasuh PP. Ibnul Qayyim di Balikpapan, Ust. Abdush Shamad Pengasuh Ahlus Sunnah di Pemalang, Ust. Syafruddin Abu Ubaidah pengasuh PP. Darul Atsar Al-Islamy di Sorong, Ust. Abdul Jabbar dan Ust. ‘Abdul Haq pengasuh PP. Darus Sunnah Al-Khairiyyah di Bantul, Ust. ‘Abdurrahman Lombok pengasuh PP. Imam Syafi’i Sumbawa Besar, Ust. ‘Abdul Mu’thi pengasuh PP. Al-Anshor di Yogyakarta, Ust. Muslim pengasuh PP. Al-Furqan Kroya – Cilacap, Ust. Azhari pengasuh PP. Darul Mufassirin di Pangkep – Makassar, Ust. Fauzan pengasuh PP. Darus Salaf di Sragen, Ust. Idral Harits pengasuh PP. Darus Salaf di Solo, Ust. Ja’far Shalih pengasuh PP. Madrasah Salafiyah di Depok, Ust. Abu Hamzah Yusuf pengasuh PP. Adhwaus Salaf di Bandung, Ust. Adnan pengasuh PP. Ahlus Sunnah di Manado, Ust. Mahmud Pondok Pesantren Ahlus Sunnah di Purwakarta, dan masih banyak lagi lainnya yang belum disebutkan di sini.

Kiprah para ustadz tersebut sangat jelas. Mereka tampil mengibarkan Dakwah Salafiyyah di Indonesia, dan sangat nampak kebenciannya terhadap paham teroris khawarij, dan berbagai paham sesat lainnya. Bisa dilihat pada ceramah-ceramah mereka, karya tulis mereka, taklim-taklim mereka di pondok pesantren masing-masing, ataupun situs-situs internet mereka.

“Sehingga kalau pun benar pengakuan Syaifuddin bahwa dirinya pernah belajar ke Syaikh Muqbil, maka dia sendirilah yang nyleneh, menyelisihi murid-murid Syaikh Muqbil. Dia bukanlah murid sejati yang bisa mengambil manfaat dari ilmu yang diajarkan oleh Syaikh Muqbil. Justru dia tetap berada di atas kesesatan, walaupun telah sampai di tempat ilmu yang benar. Dengan demikian Syaifuddin telah merusak nama baik Syaikh Muqbil rahimahullah dan Pondok Pesantrennya.”, tandas Ustadz Luqman.

Ustadz Luqman juga menambahkan, "Tentunya kita masih ingat kisah Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri dengan muridnya yang bernama Washil bin 'Atho pada masa tabi'in. Al-Hasan Al-Bashri adalah seorang tokoh besar ahlus sunnah, di majelisnya beliau senantiasa mengajarkan metode pemahaman ahlus sunnah. Murid-muridnya pun menerima dan berpegang kepada metode pemahaman ahlus sunnah sebagaimana diajarkan oleh gurunya. Namun si Washil bin Atho' adalah seorang murid yang telah bercokol di kepalanya paham sesat Mu'tazilah. Ia tidak bisa menerima pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Maka ia pun pergi meninggalkan majelis sang gurunya. Sehingga dengan itu segala penyimpangan paham Washil bin Atho' tidak boleh dikaitkan dengan imam besar Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah."

(Dikutip dari http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1534 dari email al Ustadz Abu Amr Ahmad dan dimuat di http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=71)
Selanjutnya »»

(Pers Rilis) Benarkah Syaifudin Zuhri Murid Syaikh Muqbil?

Penulis Ustadz Abu Amr Ahmad


Media massa melansir surat teroris Syaifudin Zuhri, yang di antara isinya : Teman-teman Indonesia tidak ada yang memahami pergerakan udin ini karena sudah antipati dan menuduh udin ikut gerakan salafi mukbil.”

Disebut-sebut juga di media bahwa Syaifudin yang sekarang jadi buron ini belajar aliran Salafi Muqbili di Yaman pada 1991.

Pemberitaan ini menimbulkan kesan – dan itu sudah terlanjur menjadi opini yang dipahami banyak kalangan – bahwa Syaifuddin mendapatkan ajaran paham terorisme dari Syaikh Muqbil. Bahkan sampai ada juga yang menyebarkan isu bahwa Syaifuddin diajari melakukan bombardir oleh Syaikh Muqbil.

Sungguh ini perlu diluruskan. Pondok Pesantren Darul Hadits di desa Dammaj - Yaman yang diasuh oleh Syaikh Muqbil adalah pondok pesantren Ahlus Sunnah, yang diajarkan di sana ilmu-ilmu agama berdasarkan Al- Qur`an dan As-Sunnah di atas manhaj Salaf. Sangat jauh dari paham terorisme – khawarij, apalagi sampai mengajarkan cara mengebom atau menteror. (lihat kembali Mengenal Lebih Dekat Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi'i)

Alhamdulillah, di Indonesia banyak para ustadz yang juga alumnus Ponpes Darul Hadits – Dammaj. Mereka selama ini dikenal anti dan memerangi terorisme. Tentang kebenaran Syaifuddin Zuhri pernah belajar kepada Syaikh Muqbil bisa diverifikasi kepada para ustadz tersebut.

Diantara yang berhasil kami hubungi adalah Ustadz Luqman Ba’abduh, yang lama berada nyantri kepada Syaikh Muqbil sejak tahun 1994. Saat ini beliau sebagai pengasuh Pondok Pesantren As-Salafy Jember.

"Ketika isu seputar nama Syaikh Muqbil yang dikait-kaitkan dengan terorisme di Indonesia kami sampaikan kepada beliau, maka pertama yang beliau sampaikan adalah nasehat kepada kita semua – terutama para wartawan – untuk berhati-hati menyebarkan berita. Jangan sampai menyebarkan berita dusta atas nama seseorang".

“Apalagi Syaikh Muqbil adalah seorang ‘ulama besar. Kebohongan atas nama ‘ulama bisa berakibat mencemarkan nama baik Dakwah yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Orang-orang yang menyakiti kaum mukminin dan mukminat tanpa sebab kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya orang-orang tersebut telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab : 58)

Allah juga berfirman :
“(ingatlah) ketika kalian menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kalian katakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit pun, dan kalian menganggap perbuatan itu sebagai suatu yang ringan saja. Padahal perbuatan itu di sisi Allah adalah perkara (dosa yang)besar.” (An-Nur : 15).

Allah juga berfirman : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’ : 36

Maka hendaknya kaum muslimin jangan asal berbicara, asal mengutip, dan asal menyampaikan berita. Karena di samping hal itu akan menyeret dia kepada sikap menzhalimi hamba Allah, juga akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah pada hari Kiamat kelak. Tidak semua berita yang disampaikan oleh media massa dapat diterima dan ditelan mentah-mentah. Karena tak sedikit berbagai berita itu yang disampaikan tanpa ada upaya klarifikasi yang tepat, bahkan tidak jarang pula berbagai berita tersebut dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan tertentu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat : 6)

Saya juga mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin, agar berhati-hati dari para ruwaibidhah, yaitu orang-orang yang berani lancang berbicara tentang perkara besar terkait dengan umat, padahal dia bukanlah orang yang pantas untuk berbicara.” demikan ustadz Luqman menasehatkan.

Kemudian tentang simpang siur berita bahwa Syaifuddin termasuk murid Syaikh Muqbil Al-Wadi’i, Ustadz Luqman menjelaskan, “Ketika awal-awal saya datang ke Pondok Syaikh Muqbil, teman-teman di sana yang berasal dari Yaman memberitakan kepada saya bahwa dulu pernah ada orang Indonesia yang datang ke sini. Namun hanya sebentar, tidak lama kemudian dia pun pergi.”

Beliau menambahkan, “Jika benar itu yang dimaksud adalah Syaifuddin, maka keberadaan dia yang sebentar ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi :
Pertama, metode Syaikh Muqbil dalam memahami dan mengajarkan Islam pada berbagai pelajarannya tidak sesuai dengan metode berpikir Syaifuddin yang berpaham teroris – khawarij. Sehingga dia tidak betah berlama-lama dan segera hengkang dari Pondok Pesantren tersebut.
Kedua, masa tinggal Syaifuddin yang sangat singkat itu sekaligus menegaskan kepada kita, bahwa dia belum mendapatkan bimbingan yang matang dari Syaikh Muqbil. Sehingga paham khawarij yang bercokol di kepala Syaifuddin belum sempat berubah ketika ia pergi meninggalkan Pondok Pesantren yang diasuh oleh Syaikh Muqbil.”

Jadi paham terorisme yang ada di kepala Syaifuddin Zuhri sama sekali tidak ada kaitannya dengan Syaikh Muqbil maupun Pondok Pesantren Darul Hadits – Dammaj yang beliau asuh.

(Sumber : http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1533 dari email al Ustadz Abu Amr Ahmad, juga dimuat di http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=70)
Selanjutnya »»

(Pers Rilis) Lebih Dekat Lagi dengan Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i

Pengantar:
Mengingat ada rilis di sekian media massa terkait isi dari laptop Noordin Top, yang disana ada surat Syaefudin Zuhri yang mengatakan : ” Teman-teman Indonesia tidak ada yang memahami pergerakan Udin ini ka­rena sudah antipati dan menu­duh Udin ikut gerakan salafi muk­bil,” tulisnya dalam surat.” (JP 30/09) Jelas tertulis Udin hanya dituduh ikut gerakan salafi mukbil, namun kenyataannya ternyata tidak. Maka Pustaka Qaulan Sadida yang para penulisnya adalah murid syaikh Muqbil Bin Hadi al Wadi’i, maka perkenankan kami mengirimkan pers rilis terkait siapa beliau sebenarnya. Silakan menyimak.

بسم الله الرحمن الرحيم

Mengenal Lebih Dekat Sosok 'Ulama Besar Ahli Hadits dari Negeri Yaman, As-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad'i -rahimahullah-

Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di negeri Yaman – bahkan di dunia Islam secara umum – tidak bisa dilepas dari sosok besar Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah. Beliau lah yang kembali berhasil melakukan tajdid (pembaharuan) Dakwah Salafiyyah di Yaman pada abad ini. Semenjak masa Al-Imam ‘Abdurrazzaq bin Hammam Ash-Shan’ani rahimahullah tidaklah Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Yaman tersebar sebagaimana tersebarnya pada masa Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah.

Beliau adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qa`idah Al-Hamdani Al-Wadi’i dari qabilah Alu Rasyid rahimahullah. Beliau adalah duri bagi para pengusung kebatilan, baik dari kalangan Syi’ah Rafidhah, Khawarij, Teroris, Liberalis, Komunis, Shufiyyah, dan kelompok-kelompok sesat lainnya.

Beliau adalah sosok yang dikenal dengan kejujuran, keikhlasan, ‘iffah (menjaga kehormatan dan harga diri), kesabaran, zuhd dalam kehidupan dunia, berjalan di atas aqidah yang benar dan manhaj salafi yang lurus, sikap bijak, santun, lembut, keberanian, serta tampil menyerukan kebenaran. Sungguh sosok beliau mengingatkan dengan sosok para ‘ulama salafush shalih, terutama sosok Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.


Sepulang beliau dari belajar di negeri Tauhid dan Sunnah Kerajaan Saudi ‘Arabia, beliau mulia merintis taklim dan dakwah di negeri Yaman. Maka Allah ‘Azza wa Jalla membukakan pintu kemenangan dan keberhasilan bagi beliau dalam wujud yang sangat besar. Dengan diiringi dan dibantu oleh teman sepejuangan beliau sekaligus murid besar beliau, Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi hafizhahullah, berdirilah Pondok Pesantren beliau di desa Dammaj – Sha’dah Yaman, yang diberi nama Ma’had Darul Hadits. Sungguh Allah barakahi dakwah dan perjuangan beliau. Pesantren beliau menjadi pesantren yang sarat dengan ilmu. Berbagai disiplin ilmu agama diajarkan di sana. Dengan dilandasi keikhlasan niat, kesungguhan, kasih sayang, akhlaq mulia, kesantunan, jauh dari sikap brutal dan ekstrim. Para murid berdatangan dari seantero dunia Islam dari seluruh penjuru dunia. Kalau dulu dikatakan bahwa tidak ada seorang ‘ulama yang paling banyak didatangi oleh para Ahli Hadits dari berbagai penjuru negeri seperti Al-Imam ‘Abdurrazzaq Ash-Shan’ani rahimahullah. Maka pada masa ini, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa tidak ada seorang ‘ulama yang paling banyak didatangi oleh para penuntut ilmu dari berbagai penjuru negeri seperti Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah.

Jerih payah upaya dakwah beliau – tentunya setelah pertolongan dan taufiq dari Allah ‘Azza wa Jalla – benar-benar membuahkan hasil yang sangat indah di negeri Yaman dan dunia Islam pada umumnya. Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadi dikenal, dihormati, dan diterima serta diikuti oleh umat.

Beliau berhasil melahirkan tokoh-tokoh yang menjadi ‘ulama besar Ahlus Sunnah di Yaman. Mereka kini juga mendirikan pondok-pondok pesantren yang juga memiliki banyak murid. Di antaranya, di kota Al-Hudaidah ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi, di Ma’bar ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, di Mafraqhubaisy ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i, di Shan’a ada Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shaumali, di Hadhramaut ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i, di ‘Aden ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i, demikian juga di desa Dzamar ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Adz-Dzamiri, dan lainnya, semuanya adalah para murid besar Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.

Beliau juga meninggalkan karya-karya tulis yang sangat banyak. Mayoritasnya dalam bidang ilmu hadits. Beliau sangat perhatian terhadap seleksi hadits, mana yang shahih mana yang bukan. Dan memang beliau termasuk salah seorang ‘ulama ahlul hadits abad ini. Karya-karya besar beliau mayoritasnya beliau tulis dengan metode para ‘ulama ahlul hadits. Karya-karya tersebut menjadi rujukan penting kaum muslimin sekaligus termasuk khazanah keilmuan yang sangat penting.

● Prinsip Dakwah Asy-Syaikh Muqbil

Dakwah yang beliau kibarkan adalah Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dakwah berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas metode pemahaman dan pengamalan para salafush shalih (para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in).

Beliau menegaskan, bahwa Pendiri Dakwah Salafiyyah yang beliau kibarkan di Yaman tidak lain adalah Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena memang Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah dakwah yang murni seratus persen mengikuti dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghidupkan sunnah-sunnah dan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi Dakwah Salafiyyah bukan dakwah milik perorangan atau pun kelompok atau bangsa tertentu. Bukan dakwah yang baru-baru muncul, bukan pula organisasi atau pergerakan tertentu yang didirikan oleh orang tertentu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang prinsip dan jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah :
ما أنا عليه اليوم وأصحابي
Yaitu jalan yang aku (Rasulullah) dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini.

Dakwah Asy-Syaikh Muqbil ditegakkan di atas ilmu, kasih sayang, akhlaq, kelembutan, dan hikmah (menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya sesuai bimbingan ilmu), jauh dari sikap brutal, reaksioner, kekerasan versi para khawarij-teroris, syi’ah rafidhah, jauh pula dari sikap mengentengkan kalangan shufiyyah, liberalis, dan semisalnya.
● Semangat Beliau dalam Berpegang dengan As-Sunnah

Beliau termasuk orang yang antusias untuk bepegang dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan sebutan beliau. Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Sesungguhnya Allah memuliakan seseorang sesuai dengan kadar berpegang teguhnya dia dengan As-Sunnah.”

Di antara ucapan yang sering beliau katakan ialah : “Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan kita tinggalkan meskipun kita harus menggigitnya dengan gigi kita.”

● Sikap Beliau terhadap Pemahaman Salafush Shalih

Beliau rahimahullah mengatakan: “Kita beribadah kepada Allah dengan pemahaman salafush shalih yang sesuai dengan dalil. Dan kita katakan: Sesungguhnya mereka telah mendahului kita dalam setiap kebaikan. Apalagi sudah jelas sanjungan terhadap mereka, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (At-Taubah: 100)

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”[1]

Dalam hadits ini terdapat isyarat bahwasanya harus mengambil sesuai dengan pemahaman mereka.

● Sikap Bijak Beliau

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah adalah seorang yang bijak dalam berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah di tengah-tengah masyarakat dan kaumnya, beliau bukanlah sosok yang kasar dan brutal. Sebab beliau tahu bahwa dakwah ini bukan ditegakkan di atas tindakan revolusioner dan pemberontakan. Cara seperti itu (revolusioner dan pemberontakan) sudah dilakukan sebagian kelompok, yang akhirnya justru menimbulkan kejelekan; memecah belah persatuan kaum muslimin serta menjadikan tercorengnya citra Islam dan kaum muslimin di mata penduduk dunia.[2]

Padahal dakwah ini dibangun di atas dasar hikmah dan nasehat yang baik, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Beliaupun selalu menganjurkan agar bertahap dalam memberikan pelajaran dan dakwah, agar jangan sampai ada yang bersemangat tapi tidak mempunyai hikmah dan ilmu. Di antara anjuran beliau, hendaknya seorang penuntut ilmu ketika kembali ke kampung halamannya jangan kemudian shalat dengan memakai sandal di dalam masjid. Karena orang di sekitarnya tentu akan menganggapnya sebagai kemungkaran dan akan memicu fitnah. Sedangkan shalat dengan sandal adalah sunnah, bukan wajib.

● Sikap Santun dan Kehati-hatian Beliau

Beliau betul-betul berhati-hati dan tenang dalam menghadapi persoalan. Betapa sering beliau berupaya memperbaiki satu permasalahan dan bersabar menghadapi para penentangnya, dengan harapan mudah-mudahan suatu ketika dia menjadi baik. Namun kalau tidak bermanfaat juga, beliau bangkit menerangkan kepada masyarakat tentang kejelekannya dan membongkar syubhat-syubhatnya serta membantah hujjah-hujjah mereka yang lemah.

Beliau sering ditanya tentang satu masalah dan selalu mengatakan: “Wallahu a’lam.” Betapa sering beliau ditanya tentang seorang tokoh, namun beliau mengatakan: “Saya menahan bicara tentang dia.” Dan beliau diam selama beberapa tahun sampai sangat jelas keadaan orang tersebut. Lantas apakah ada keburukan dalam kata-kata beliau sesudah itu? Sesungguhnya demi Allah, di kalangan mereka yang jujur dan adil, inilah yang dinamakan tatsabbut (teliti). Namun memang kebaikan itu tidak mungkin bisa melenyapkan celaan.

● Kebencian Beliau yang Sangat Besar terhadap Terorisme

Beliau sangat membenci gangguan keamanan dan munculnya kegelisahan serta rasa takut pada kaum muslimin.

Tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Saya diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan syahadat bahwa tidak ada berhak diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad itu adalah Rasul Allah, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, maka terjagalah dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka di sisi Allah.”

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjelaskan : “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap kelompok-kelompok (sesat) yang ada sekarang ini, seperti Jama’atut Takfiir (kelompok yang selalu mengkafirkan orang lain yang tidak segolongan dengannya) yang menganggap halal darah kaum muslimin. Juga Jama’atul Jihad (kelompok yang mengaku mujahidin, padahal teror) yang juga menganggap halal darah kaum muslimin. Anggaplah bahwa pemerintah itu kafir dan rakyatnya muslim, tentu akan terjadi bencana di atas kepala rakyat muslim yang pantas dikasihani ini.

Demikian pula bantahan terhadap para tokoh revolusioner, yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan tindakan revolusi, pemberontakan (dan sejenisnya).”

Dan ketika beliau ditanya tentang para turis, apakah mereka terhitung mu’ahad? [3]

Beliau menjawab : “Di antara mereka ada yang datang untuk merusak di negeri kaum muslimin, ada pula yang menjadi mata-mata. Akan tetapi melampaui batas (yakni dengan menyerang) terhadap mereka justru hanya menimbulkan kekacauan. Saya tidak menganjurkan hal ini (menyerang mereka -ed). Demikian pula halnya semua yang dapat menimbulkan kekacauan, tidak boleh.

Membunuh para wisatawan asing adalah suatu kesalahan. Kami tidak tahu kecuali akibatnya yang satu menyerang yang lain. Akhirnya dakwah terbengkalai, begitu juga dengan pendidikan, pertanian dan perdagangan. Namun perlu diingat pula bahwa ini bukan berarti kami ridha dengan (kedatangan) mereka.”

Inilah sikap kaum mukminin. Mereka tidak ingin menimbulkan gangguan keamanan. Berbeda dengan orang-orang munafik, mereka sangat antusias terhadap hal-hal seperti ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لاَ يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (Al-Ahzab: 60)

Meresahkan kaum muslimin adalah haram secara syar’i. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya (2/720) dan Ahmad dalam Musnad-nya (5/362) dari Abdurrahman bin Abi Laila:

قَالَ: حَدَّثَنَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Katanya: Para shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepadaku, bahwa beliau (Nabi) bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengagetkan dan membuat takut muslim lainnya.”

Hadits ini shahih, Asy-Syaikh Muqbil menyebutkannya dalam karya beliau Ash-Shahihul Musnad mimma Laisa fish Shahihain (2/418).

● Sikap Beliau terhadap Usamah bin Laden

Terhadap salah satu tokoh teroris international nomor wahid ini, Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan :

“Aku berlepas diri di hadapan Allah dari (kesesatan) Usamah bin Laden. Dia merupakan kejahatan dan musibah terhadap umat ini, dan aktivitasnya adalah aktivitas kejahatan.”

Beliau juga berkata :
“Kami semua berlepas diri darinya dan aktivitas-aktivitasnya sejak jauh sebelum ini. Realita menyaksikan bahwa kaum muslimin yang hidup di negeri-negeri Barat tertekan dengan sebab adanya gerakan-gerakan yang diperankan oleh kelompok Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok lainnya. Wallahul Musta’an.”
(dari surat kabar Ar-Ra`yul ‘Am Kuwait tanggal 19 Desember 1998).

Dalam kitab Tuhfatul Mujib, transkrip ceramah beliau berjudul Di Balik Peristiwa Peledakan-Peledakan di bumi Al-Haramain, Asy-Syaikh Muqbil berkata :
“Di antara contoh-contoh fitnah (yang menimpa kaum muslimin) adalah fitnah yang sudah hampir menguasai negeri Yaman yang dihembuskan oleh Usamah bin Laden … .”

” … untuk menjelaskan kepada umat bahwa urusan agama ini tidak boleh diambil dari orang semisal Usamah bin Laden, Al-Mis’ari, atau yang semisalnya. Tapi urusan agama ini harus diambil dari kalangan ‘ulama … Bahkan sesungguhnya umat ini masih sangat membutuhkan seribu ‘ulama semisal Asy-Syaikh bin Baz, dan seribu ‘ulama lain semisal Asy-Syaikh Al-Albani.”

● Rahmah dan Kasih Sayang Beliau

Beliau menyayangi semuanya, tua muda, laki-laki dan perempuan. Bahkan anak-anak kecil sangat menyukai beliau karena kedudukan dan kebaikan beliau terhadap mereka. Beliau pantas dikatakan demikian, tanpa harus berlebihan. Boleh dikatakan bahwa beliau termasuk orang yang paling penyayang terhadap sesamanya di zaman ini. Terutama terhadap para penuntut ilmu, di mana beliau memandang mereka sebagai anak-anaknya sendiri.

Beliau sering juga merasakan kesulitan bila terjadi kekurangan dari kebutuhan para penuntut ilmu. Bahkan beliau pernah mengatakan bahwasanya dia tidak pernah menemukan kesulitan yang lebih berat dirasakannya daripada hal ini.

Beliau sering manfaatkan waktu untuk duduk bersama orang banyak dengan memberikan nasehat, pengarahan, faedah, dan diskusi. Sehingga hampir tidak ada yang keluar dari majelis itu melainkan sudah mendapatkan faedah.

Nasehat-nasehatnya sangat disenangi, dan beliau memilih yang sesuai dengan pemahaman mereka tanpa membosankan. Dan kalimat-kalimat yang ringkas tidak akan membosankan siapapun.

Di antara sifat rahmatnya, beliau mengirim para da’i yang mengajak ke jalan Allah ke seluruh daerah di Yaman bahkan juga ke luar Yaman untuk menyebarkan dien Allah, mengajari manusia kebaikan dan mentahdzir mereka dari kejahatan.

Dari sifat rahmatnya, beliau selalu menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu di hati murid-muridnya. Beliau selalu menyebutkan keadaan yang dialami salafus shalih, berupa kesabaran menempuh kesulitan dalam mencari ilmu.
● Wafatnya Beliau

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah Awal 1 Jumadil Awal tahun 1422 H, bertepatan dengan 22 Juli 2001 M, setelah Isya’ di Saudi Arabia. Beliau dishalatkan setelah shubuh, kemudian dimakamkan di pekuburan Al ‘Adl dekat makam Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahumullahu. Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Muqbil dan menempatkannya di jannah-Nya yang tertinggi. Serta menjadikan segala jerih payah dan amal usaha beliau termasuk timbangan amal shalih beliau di sisi-Nya. Amin

Footnote :
[1] HSR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu.
[2] Tindakan revolusioner dan pemberontakan ini sudah pernah dicoba oleh sebagian aktivis dakwah. Namun hasilnya justru menyebabkan Islam menjadi sasaran tuduhan sebagai agama teroris dan kekerasan. Wallahul musta’an.
[3] Orang kafir yang terikat perjanjian dengan negara muslimin.

(Dikutip dari http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2009/10/01/mengenal-lebih-dekat-syaikh-muqbil-bin-hadi-al-wadii/, dari sumber aslinya di http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=67#more-67)
Selanjutnya »»